Buaya International part 3
Baiklah kali ini aku belum tahu kenapa aku membuat cerita buaya international ini sampai part 3. Maybe because being in love with somebody that you didn’t know it before. Or being in love with somebody who are places far – far away from you, it’s just like a gift from God to you. Doa itu emang ga ada yang tau kapan akan tercapainya doa itu ke kamu. Aku merasa seperti ini jawaban dari doa ku, tidak, ini jawaban dari gumaman – gumaman yang aku katakan setiap aku selesai melakukan sholat 5 waktu ku. Kukira dia akan bertindak seperti buaya pada umumnya, meninggi – ninggikan hati si wanita, agar merasa bahagia karnanya, kemudian dijatuhkan begitu saja setelahnya. Tapi dia tidak, dia begitu dewasa melakukan hubungan relationship kepada wanitanya.
Dia begitu menjaga privasi wanita, yang memang seharusnya tidak boleh diperlihatkan oleh agama. Dia begitu mengerti bagaimana sikap yang harus diberikan ketika dia berhubungan dengan seorang wanita. MasyaAllah, aku tidak pernah bertemu laki – laki seperti ini sebelumnya. Ajaibnya, dia memiliki kesenangan yang sangat mirip dengan ku. Sangat mirip pula dengan gumaman yang aku katakan di selesai waktu sholat ku. Ya, beginilah ketika wanita sedang jatuh cinta. Selalu mencari – cari kesamaan dengan seseorang yang dicinta. Berharap suatu saat tiba, kesamaan itu bisa mempersatukan mereka pada suatu takdir yang bahagia.
Sayangnya jatuh cinta juga bisa jadi bahaya. Karna cinta bisa membuat kita melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Inilah penyakit paling berbahaya dari cinta. Cinta bisa menjadi indah karena karunianya, bisa juga menjadi limbah jalan menuju lubang dosa. Untuk itu aku selalu takut jika aku terlalu merasakan cinta. Karna akhirannya, aku pasti akan lupa dengan siapa yang sebenarnya memberi rasa cinta. Dia Sang Maha Pencipta yang seharusnya aku berikan rasa cinta pertama. Dialah alasan ku kenapa bisa merasakan rasa cinta. Itulah kenapa aku takut jika lupa melewatkan Tuhan disetiap datangnya rasa cinta yang tiba – tiba.
Seperti kisah ku kali ini. Aku berani berbohong dengan dia, agar dia merasa lebih nyaman lagi saat bersamaku. Aku mengakui ini karna aku tidak ingin lagi ada kebohongan yang aku tutup – tutupi dari ku. Karna hidup dalam kebohongan itu sesuatu yang sangat tidak enak dirasakan. Kebohongan ini akan membawa kebohongan – kebohongan lainnya dimasa depan. Mudah diucapkan, tapi susah untuk diungkapkan, berat juga diamal timbangan keburukan. Inilah kesalahan ku ketika aku merasakan cinta. Kesalahan yang bisa membuat ku terjatuh lagi ke lubang dosa. Oleh karena itu aku harus berani mengungkapnya, sebagai bentuk pelebur dosa ku kepada Tuhan. Dan juga aku tahu semua orang pasti melakukan kesalahan. Aku berharap kamu bisa mengambil pelajaran dari hal ini, agar tidak ada lagi kebohongan yang terucapkan dengan santainya di masa depan.
Menyakitkan memang, mengungkapkan sesuatu hal buruk yang sudah dilakukan. Aku sangat menyesal telah membohonginya dan juga membohongi diriku sendiri. Aku sempat tak berani untuk kembali membuka pesan dari dirinya lagi. Hanya karena takut jika takdir yang kuingin tidak seperti takdir yang terjadi dikenyataan. Aku takut dia akan membenci ku, dan hubungan perpesanan kita hanya cukup sampai disitu.
Aku sampai tak enak makan dibuatnya. Tapi selama apapun aku menolak itu, takdir itu tetap akan datang padaku. Mau tidak mau aku harus menghadapi kenyataan takdir itu. Aku selalu memikirkan takdir terburuk yang akan datang kepada ku. Takdir dimana aku tidak bisa lagi berhubungan dengannya. Aku berungkali meyakinkan pada diriku sendiri agar aku tidak terlalu menaruh perasaan kepada manusia. Aku selalu memaksa diriku untuk kembali mengingat Tuhan agar aku tahu Dia lah yang sebenarnya tidak pernah meninggalkan ku. Cukupkan hati ku untuk mencintai-Nya terlebih dahulu daripada mencintai hamba-Nya dulu.
Benar saja, Allah itu Maha Mendengar, Maha mengabulkan doa hambanya, dan sangat mengerti apa yang sebenarnya aku inginkan. Hebatnya lagi, aku jadi lebih banyak mengingat Allah ketika aku berbicara dengannya. MashaAllah, Alhamdu Lillah, aku sangat bahagia saat itu, kukira dia akan membenci ku, ternyata dugaan ku sangat salah besar, Allah selalu menyiapkan takdir baik menurutku, hanya saja aku tidak menyadari hal itu. Allah sangat tahu hal itu yang aku inginkan. Aku sangat malu dengan Allah, ketika aku menduga – duga takdir terburuk terjadi pada ku. Ternyata semua takdir yang datang pada diriku itu adalah takdir terbaik dari Allah buat aku. Aku menyesali, dan aku menangis sejadi – jadinya, mengingat aku selalu berburuk sangka pada Tuhan ku sendiri. Maafkan aku ya Allah. Ampuni aku ya Allah.



Komentar
Posting Komentar