Introduction

 



Introduction

Nama ku Hana. Kau bisa memanggilku dengan nama itu. Aku dilahirkan di akhir tahun 1994. Mungkin akan terlihat tua jika mengakuinya. Menurutku tidak, selama aku masih bisa bernafas dan beraktivitas layaknya manusia pada umumnya, aku masih memiliki jiwa muda itu. Karena usia tidak bisa menjamin mu untuk bisa hidup lebih lama. Jadi untuk siapapun kamu yang mungkin pernah merasa tua hanya karena ucapan orang berpendapat, abaikan saja. Hidup lah seperti kamu hidup selamanya saat ini, dan ingatlah kematian ketika kamu mulai telah melewati batas yang kamu berikan di diri kamu sendiri. Ingat! Orang memang bebas berpendapat, tapi kamu juga berhak untuk bisa jadi berbakat.

Aku adalah tipe orang yang sangat peka. Bahkan ketika ada kucing sekarat mati dipinggir jalan aku menangis karena hal itu. Ketika ada pagelaran topeng monyet, aku menangis melihat monyet itu. Ketika aku melihat kuda yang di pecuti oleh kusirnya, aku menangis karena hal itu. Aku menangis hanya karena mereka tidak bisa hidup bebas seperti ku. Aku begitu merasakan bagaimana hidup seperti mereka itu. Aku bersyukur aku terlahir seperti manusia, tidak berjuang sekeras mereka untuk makan, minum, tidur, bahkan untuk menggaruk punggung.

Aku orang yang sangat perfectionist. Aku selalu ingin mengerjakan tugasku dengan sempurna, namun aku harus menyadari bahwa tidak ada yang sempurna didunia ini. Karna kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Itu kadang kenapa aku masih bisa mengatasi sifat ini. Mungkin karna hal ini pula yang membuat ku lulus diakhir waktu. Tidak apa – apa, setidaknya aku masih bisa terus berjuang hingga titik darah penghabisan, daripada mundur dengan penyesalan. Karena aku sangat tidak suka menyerah dengan apa yang sudah aku mulai. Aku harus menyelesaikannya sampai akhir walaupun aku lelah ditengah jalan, malu dipertigaan, dan putus asa diperempatan, namun aku harus tetap maju terus hingga tuntas semua terselesaikan. Karna setelah itu aku merasa pelangi berkibar di kepalaku, mengingat semua perjuangan ku tidak pernah berakhir sia – sia. Aku bangga dengan hal itu didiriku. Seperti pencapaian ku untuk diriku.

Aku orang yang sangat naif. Aku menganggap semua orang yang datang kepadaku adalah orang baik. Padahal orang dengan hati yang tidak baik sudah ada sejak zaman nabi Adam as. Bukan tidak baik, mereka hanya orang baik yang membutuhkan timbal balik dari kebaikan yang mereka berikan. Aku menyebutnya orang baik dengan hati yang tidak baik. Kenapa aku selalu membawa hati ketika mengenalkan seorang yang baik? Karena orang baik itu bisa kukenali dari cara hati ku mengenalinya. Hati setiap orang pasti punya cara mereka sendiri untuk mengenali orang – orang baik ini. Mungkin karena hal ini juga, aku tidak begitu banyak memiliki teman. Karena aku merasa nyaman dengan diriku sendiri, aku bisa menyelesaikan dan focus pada tugas ku saat aku sendirian. Seperti semua ide brilian itu keluar begitu saja diotak ku. 

Aku orang yang sangat menjunjung tinggi kejujuran. Tidak enak rasanya hidup dengan dibaluti keresahan karena ketidak jujuran. Aku memiliki kisah kelam karena hal ini. Oleh karenanya, aku tak akan dan tidak ingin mengulangi hal ini. Aku berani membohongi orang yang datang dihidupku, hanya karena agar mereka tetap tinggal. Aku juga pernah tertipu hanya karena hati tidak jujur ini ada di dalam hati orang baik yang datang di hidupku. Mungkin semua pernah mengalami hal ini. Menghalalkan segala cara demi agar orang baik itu bisa tinggal lebih lama dengan kita. Tapi kebohongan seperti ini, sangat tidak disukai oleh Tuhan ku, Allah SWT. Karna kebohongan itu membawa kebohongan – kebohongan lainnya, yang membuatnya semakin berat mempertanggung jawabkannya. Membuat hati baik ini lelah sendiri ketika menjalani kehidupan. Karna ketika hati ini tahu yang dibohongi adalah orang – orang baik yang memiliki hati yang tulus ikhlas. Aku serasa membohongi diriku sendiri. Aku menangis keras karena hal ini, mengingat pepatah, orang baik tidak akan datang kedua kali. Terlebih lagi, aku merasa dijauhi Tuhan ku karna hal ini. Sehingga kuputuskan untuk berhenti membohongi orang lain dan diri sendiri. Aku tidak lagi peduli ucapan orang berpendapat. Aku yakin jika orang yang benar – benar baik dengan hati yang tulus ikhlas pasti akan tetap tinggal tanpa aku harus mengucapkan kebohongan. Dan aku sudah memaafkan semua orang baik yang memiliki hati seperti ini yang pernah datang dihidupku. Aku pun memohon maaf yang sebesar - besarnya kepada siapapun yang merasa terbohongi karna ulah hati ku yang dulu. Semoga kita semua dimaafkan oleh Allah SWT.

Aku orang yang sangat suka tentang hal kesehatan. Mengingat betapa pentingnya kesehatan disetiap kegiatan yang kulakukan. Badan sehat, Wajah sehat, Mental yang sehat, hubungan yang sehat. Secara tidak langsung, sehat menjadi sangat penting dihidupku. Karena dengan sehat, aku bisa menjadi lebih dekat dengan Tuhan ku, Allah SWT. Ada cerita sok kuat ku pada diri sendiri tentang hal sehat ini. Mungkin bisa menjadi pelajaran berharga buat ku dan juga kamu. Alih – alih ingin memiliki badan sehat seperti Jeon Somi, berakhir pada kondisi dimana aku hampir tidak sadarkan diri karna itu.

Dalam 1 hari aku mengerjakan semua pekerjaan rumah, aku juga berolahraga keras, aku juga memaksa otak ku untuk bekerja saat aku menulis, namun aku makan hanya 1 butir telur rebus saja ditambah segelas susu kedelai dengan 2 buah jagung rebus. Sisanya hanya kuhabiskan dengan minum dan memakan sedikit camilan 2 sendok nasi dan 1 sendok lauk. Ini adalah moment tak terlupakan bagiku. Ketika jam malam menunjukkan pukul 7:28 pm, aku masih ingat betul hal ini. Hal dimana aku merasakan detik – detik sekarat itu, dan aku mencoba istirahat dengan tidur tp mata ku tak bisa terpejam. Seluruh badan ku gemetar hebat, detak jantung ku berdetak cepat, nafasku yang melewati kerongkongan melesak sesak. Aku mencoba menarik nafas panjang, hanya muncul nafas saja tapi aku tak merasa ada oksigen yang masuk kedalam rongga dada ku. Aku begitu ketakutan, pandangan ku mulai kabur, badan ku masih gemetar hebat, kepala ku terasa ringan seolah – olah ia siap untuk di istirahatkan selamanya. Aku semakin cemas jika aku pingsan sebelum aku bisa menyelamatkan diriku sendiri.

Dalam waktu seperti itu aku berdoa lebih banyak hal. Berulangkali aku datang ke tempat tidur Papaku, untuk melihatnya yang sedang tertidur lelap. Aku tak ingin membangunkannya, aku tahu pasti Papa sangat lelah, dan aku tak mau membuatnya kembali terbangun shock dari tidurnya hanya karna kondisiku saat itu. Aku kembali ke kamar ku dan terus mencoba menyelesaikan keluhan ku sendiri. Aku menyebutkan kalimat syahadat berkali – kali dalam hati ku. Sambil berusaha menambah oksigen di rongga dada ku. Hasil ini masih nihil, aku berbicara pada diriku sendiri, mungkin aku kurang minum. Segera aku bergegas mengambil air minum dari botol yang berukuran mirip Aqua botol tanggung. Aku habiskan dalam 2 kali tegukkan. Ya, aku sangat kuat dengan minum air mineral, karena aku sangat menyukainya. Rasa ini masih tak bisa hilang, rasa dimana aku merasa bahwa ini akan menjadi akhir dari hidupku didunia. Hingga aku melihat madu yang biasa aku pakai untuk kebutuhan masker mingguan ku. Aku langsung mengambil sendok dan memakan madu itu secara langsung dalam 1 sendok makan. Sambil ikhtiar dan berdoa, lambat laun, meyakinkan diri dengan yakin Allah pasti masih memberiku kesempatan untuk aku hidup didunia ini, Allah pasti memberiku waktu untuk menghapus dosa – dosa ku dulu sebelum Ia mengambil ubun – ubun ku ini. Aku selalu meyakinkan hal ini pada diriku.

Hingga akhirnya aku merasakan lambat laun ketenangan, kepala ku mulai terasa nyaman, tak lagi terasa ringan dan cemas. Detak jantungku terasa mulai menyesuaikan. Nafasku mulai terasa ringan seperti biasanya. Ku tambahkan lagi 1 sendok madu, namun aku mencampurnya dengan setengah gelas air kemudian meneguknya dengan sendok. Sendok demi sendok, aku mulai merasakan diri ku kembali seperti biasanya lagi. Alhamdu Lillah, kata itu yang terus terucapkan dalam hati ku berkali – kali. Aku masih diberi kesempatan hidup sekali lagi, terimakasih Tuhanku. Aku bersyukur banyak akan hal ini, aku masih bisa diberi kesempatan mengabdi lebih banyak lagi pada Papaku. Hal yang kuambil dari pelajaran berharga ini, ketika aku yakin pada Allah, aku pasti akan mendapatkannya. Jadi mulailah dengan menyakini diri sendiri akan kehadiran Allah yang selalu membantumu.

Setelah kuteliti sendiri kenapa aku bisa mengalami hal ini, ternyata bodohnya aku. Aku mencoba hal sehat ini disaat aku dalam waktu periode ku, kemudian aku baru selesai vaksin dosis 1, kemudian aku anemia, kemudian aku olahraga terlalu keras, kemudian aku kurang makan dan minum, dan aku beraktivitas terlalu banyak yang tidak sesuai dengan porsi hidupku. Kebodohan yang selalu kuanggap aku bisa, aku kuat menghadapi semuanya. Pikiran bodoh yang selalu muncul dengan kalimat, “jika Jeon Somi saja bisa, pasti aku juga bisa”. Aku tidak mengerti berapa kalori yang harus kubutuhkan, dan perbedaan kalori ku dengan kalori Jeon Somi. Pikiran ini kadang ada bagusnya kadang juga sangat membahayakan bagi yang memikirkannya. Bijak – bijak dalam memanajemen pikiran optimis seperti ini. Agar tidak terjadi hal menyeramkan sepertiku datang kepada mu.

Masih banyak hal tentang diriku yang tidak mungkin aku ungkapkan disini. Mengingat begitu banyaknya paparazzi, aku tidak ingin mengakui ini lebih banyak lagi. Dan terimakasih untuk kamu yang masih mau menyimak ini. Salam Kenal.

Komentar

Postingan Populer