Proses

 


Ini yang aku takutkan ketika aku berani membuka hati lagi pada seorang pria, yang aku rasakan hanya rasa sakit. Aku merasa tersakiti karenanya. Ketika yang kurasakan berakhir sama saja. Bersamaan dengan rasa sakit ini, aku kembali mengingat hal – hal buruk masa lalu ku, yang seharusnya aku tidak mengingat ini. Karna hal ini, aku jadi merasa insecure lagi, sakit lagi, feel unwanted lagi. Aku menjadi tidak menghargai keberadaan diriku sendiri lagi. Aku kembali menyalahkan diri ku lagi, aku kembali merasa tidak berharga pada diri, dan aku merasa kembali mengecewakan orang – orang disekitar ku lagi. Aku merasa bersalah sama papa sama mas Bima, sama mas Farhan dan kakak – kakak ku yang telah berjuang pada masa ini. Dan yang paling penting, aku menjadi tidak yakin pada diriku sendiri. Aku tidak mempercayai diriku sendiri, dan kembali menyalahkan diriku sendiri.

Aku tau hal ini terjadi karena ketika aku berusaha kembali mengingat masa lalu ku yang bahagia di masa lalu. Terlintas yang dibenak ku, hanya moment – moment buruk yang pernah ku alami. Aku ingin menjadi Denny Sumargo yang terus pantang menyerah mendapatkan mimpi apa yang dia inginkan, menjadi Cinta Laura yang berhasil keluar dari masa insecure nya. Aku ingin merasakan itu semua. Mungkin ini yang dinamakan prosesnya. Aku harus merasakan hal ini, karena ini adalah prosesnya. Aku harus bertahan diposisi ini. Tidak apa – apa jika saat ini aku merasa dibenci, tidak apa – apa jika aku saat ini merasa sakit, tidak apa – apa jika saat ini aku merasa tidak berguna, yang terpenting adalah saat ini aku harus bisa melewati proses ini. Proses untuk aku agar aku bisa mencapai mimpi indah ku nanti. Mimpi dimana aku bisa membahagiakan papa dan kakak – kakak ku yang tetap berjuang dimasa ini.

Proses ini juga yang membuatku bisa terus mengingat-Nya. Ya, Dia Sang Maha Menciptakan diriku ini. Dia juga yang memegang kuasa penuh atas ubun – ubun ku ini. Aku terus menerus mengingat-Nya ketika aku ingin menangis sangat kencangnya karna proses ini. Aku terus menerus meminta bimbingan-Nya, bak bayi yang meminta dipapah untuk belajar berjalan. Berjalan di jalan yang sebenar – benarnya jalan kesuksesan. Jalan yang ternyata memang tidak semulus jalan raya. Jalan yang memiliki hantaman tembok keras didepannya. Jalan yang membuatku ingin menangis sekeras – keras nya, karena terus menerus saja aku menabrak hantaman itu. Tapi kembali lagi aku meminta kepada-Nya, meminta untuk dipapah lagi dengan-Nya. Dia yang tak pernah lelah memapahku berjalan, Dia yang tak pernah meninggalkan ku di jalan, Dia yang selalu menerima ku bagaimana pun keadaan. Dialah Sang Maha Pencipta diriku, Allah Subhanahu wa ta’ala.

Oleh karena itu, aku ingin mengajakmu, dan semua orang yang mungkin sangat menginginkan tercapainya mimpi. Teruslah berjalan, jangan patah semangat. Ingat lah Allah SWT, yang akan selalu memandumu untuk berjalan. Lupakan orang berpendapat, terus lah menggali bakat, dan jangan patah semangat, juga jangan berhenti untuk tirakat pada Allah SWT. Percayalah you’ll never know until you’ve done with your finish line.


Komentar

Postingan Populer